Survey Alur Pelayaran dan Perlintasan Pelabuhan Merak Bakauheuni, Pelabuhan Benoa dan Pelabuhan Sorong

Survey Alur Pelayaran dan Perlintasan Pelabuhan Merak Bakauheuni, Pelabuhan Benoa dan Pelabuhan Sorong

 

Dalam mewujudkan prinsip wawasan nusantara, peranan laut di Indonesia menjadi sangat penting. Dengan adanya peningkatan pelayanan sistem dan jaringan transportasi laut, maka interaksi ekonomi kelautan juga akan meningkat. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kewajiban untuk menjamin kelancaran, keamanan, ketertiban dan kenyamanan bernavigasi, agar lalu lintas kapal di negara kepulauan tersebut aman, lancar, dan tertib baik untuk kepentingan nasional maupun internasional.

Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan Negara Kepulauan (Archipelago State) oleh konfrensi PBB, lndonesia memiliki kedaulatan terhadap keseluruhan wilayah laut lndonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kewajiban untuk menjamin kelancaran, keamanan, ketertiban dan kenyamanan bernavigasi, agar lalu lintas kapal di negara kepulauan tersebut aman, lancar, dan tertib baik untuk kepentingan nasional maupun internasional. Untuk mendukung keselamatan dan keamanan pelayaran, hal-hal yang terkait dengan kenavigasian menjadi penting untuk diperhatikan. Kegiatan studi survei alur pelayaran dan perlintasan akan dilaksanakan sebagai pembaharuan data alur pelayaran dan peta laut yang telah ada sehingga dapat menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. Pada tahun 2014 ini, Direktorat Kenavigasian melanjutkan studisurvei alur pelayaran dan perlintasan di alur pelayaran Selat Sunda di wilayah kerja Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok, alur pelayaran Pelabuhan Benoa di wilayah kerja Distrik Navigasi Kelas II Benoa dan alur pelayaran Pelabuhan Sorong di Distrik Navigasi Kelas I Sorong.

Studi mencakup survei hidrografi yang bertujuan untuk mengukur kondisi lingkungan di alur pelayaran yang terdiri darii, survei batimetri, pengukuran pasang surut, pengukuran arus perairan, pengambilan sedimen (dasar laut), pengukuran angin. Selain itu dilakukan analisis  alur pelayaran dan perlintasan, analisis kebutuhan  Sarana Bantu Navigasi Pelayaran  (SBNP)  serta Rekomendasinya.

Pada alur penyeberangan Pelabuhan Merak – Bakauheni, kapal yang melintas pada alur pelayaran didominasi kapal ro-rountuk mengangkut penumpang dan kendaraan. Kapal terbesar yang melintasi alur pelayaran Plebuhan Merak-Bakauheni  adalah PORTLINK III dengan LOA sekitar 150 meter dan Beam 25 meter. Draught kapal terbesar yang melintasi alur penyeberangan Pelabuhan Merak – Bakauheni adalah 5.47 meter dengan tonase 15.351 GT. Kedalaman alur pelayaran yang direkomendasikan untuk memfasilitasi kapal tersebut adalah minimal sedalam 7,364m. Sistem rute di alur pelayaran Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni adalah rute satu arah.Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 68 tahun 2011 tentang Alur Pelayaran, untuk alur dengan rute satu arah, dengan lebar (Beam) kapal 25 meter maka direkomendasikan alur selebar 125 meter. Sedangkan, untuk dua arah, direkomendasilkan alur selebar 200meter-250meter.

No.  Aspek Kondisi Eksisting Kebutuhan Rekomendasi
PM 68 Tahun 2011 PIANC
1 Kedalaman Alur Masuk Keluar dan Kolam Pelabuhan 17mLWS -24mLWS  7,364mLWS Kedalaman mencukupi, berada pada rentang 10-30m Tetap Menggunakan RUTE SATU ARAH
2 Lebar Alur 100-120m 125m + (0,0253m-0,0281m) 90-103m
3 Lebar Tambahan dalam Belokan (Tikungan) Alur

Sumber : Hasil Analisis, 2014

Penetapan alur untuk kapal dengan kedalaman sesuai perhitungan rekomendasi kedalaman yaitu 7,36 meter dilakukan untuk memberikan batasan wilayah yang dapat dilalui oleh  kapal dengan draught 5.5 meter. Dari perhitungan dan simulasi yang didasarkan dari PM 68 tahun 2011 tentang alur pelayaran dan PIANC Guidelines, didapat hasil analisis alur pelayaran pada alur  Pelabuhan Bakauheni yang ditunjukan pada Tabel 2.

No.  Aspek Kondisi Eksisting Kebutuhan Rekomendasi
PM 68 Tahun 2011 PIANC
1 Kedalaman Alur Masuk Keluar dan Kolam Pelabuhan 15mLWS -30mLWS  7,364mLWS Kedalaman mencukupi, berada pada rentang 10-30m Tetap Menggunakan RUTE SATU ARAH
2 Lebar Alur 100-120m 125m + (0,0253m-0,0281m) 90-103m
3 Lebar Tambahan dalam Belokan (Tikungan) Alur

Sumber : Hasil Analisis, 2014

Kebutuhan akan SBNP dirasa masih cukup untuk keperluan navigasi. Adapun saat berkunjung ke lapangan, terdapat suar tanda bahaya namun belum tercantum di peta laut. Tanda bahaya tersebut berada di wilayah dekat breakwater saat akan pergi melalui alur keluar Pelabuhan Merak.

Alur pelayaran Pelabuhan Benoa dilintasi kapal – kapal domestic maupun internasional. Jenis kapal yang berlayar menuju Pelabuhan Benoa terdiri dari jenis kapal barang (cargo), kapal petikemas,  kapal penumpang (ferry), kapal tanker dan kapal pesiar (cruise). Kapal terbesar yang melintasi alur pelabuhan Benoa berbendera Indonesia diantaranya adalah kapal kargo dengan bobot ±5,000 DWT (panjang 100 meter, lebar 16,4 meter, dan draft 6.8 meter), kapal tanker dengan ukuran 5.619 GT dan kapal cruise “Legend of The Seas” dengan panjang 264 meter dan draft 7,6 meter. Berdasarkan hasil simulasi, untuk dapat dilewati kapal dengan draught 7,6m diperlukan pengerukan seluas 119.641 m2. Hasil analisis alur pelayaran pada alur Pelabuhan Benoa  ditunjukan pada Tabel 3

No.  Aspek Kondisi Eksisting Kebutuhan Rekomendasi
PM 68 Tahun 2011 PIANC
1 Kedalaman Alur Masuk Keluar dan Kolam Pelabuhan 17mLWS -24mLWS 10,642m Kedalaman  belum mencukupi dengan rentang 5-25mLWS Tetap Menggunakan SATU LAJUR DUA  ARAH

Tidak berpapasan, dan menggunakan pandu

2 Lebar Alur 100-120m 5* Beam = 5* 32 = 160 meter 263 – 295m
3 Lebar Tambahan dalam Belokan (Tikungan) Alur

Sumber : Hasil Analisis, 2014

Penetapan alur untuk kapal dengan kedalaman sesuai perhitungan rekomendasi kedalaman yaitu 10.642 meter dilakukan untuk memberikan batasan wilayah yang dapat dilalui oleh  kapal dengan draught 7,6 meter.  Saat ini, jumlah pelampung suar yang ada di alur-pelayaran Pelabuhan Benoa  adalah sebanyak 9 buah pelampung suar.

Sehubungan dengan pengerukan yang dilakukan, pihak dari Distrik Navigasi Kelas II Benoa telah melakukan survey terkait perubahan posisi Sarana Bantu Navigasi Pelayaran, diantaranya :

  1. Pada Ramsu Hijau 5 direncanakan akan digeser kurang lebih 10 Meter ke barat dari posisi ramsu semula 08º-45’–04.28“ S / 115º-13’–23.23” T ke posisi 08º-45’–3.98“ S / 115º-13’–22.92” Tdengan kedalaman ± 2 Meter;
  2. Pada Ramsu Hijau 7 direncanakan akan digeser kurang lebih 50 Meter ke utara dari posisi ramsu semula 08º-45’–00.48“ S / 115º-13’–09.02” T ke posisi 08º-44’–59.00“ S / 115º-13’–9.50” T dengan kedalaman ± 1 Meter;
  3. Pada Ramsu Hijau 9 direncanakan akan digeser kurang lebih 10 Meter ke barat dari posisi ramsu semula 08º-44’–49.62“ S / 115º-12’–57.81” T ke posisi 08º-44’–49.62“ S / 115º-12’–57.81” T dengan kedalaman ± 3 Meter.

Kapal yang melintasi alur pelayaran Pelabuhan Sorong diantaranya dari jenis kapal penumpang, kontainer, kargo, kapal perintis dan kapal tanker. Untuk alur dengan rute satu arah, dengan lebar (Beam) kapal 27,5 meter maka direkomendasikan alur selebar 137,5 meter. Tambahan lebar diterapkan pada belokan (tikungan) alur dengan memperhatikan panjang kapal dan radius belokan. Panjang kapal LOA terbesar yang melewati alur pelayaran adalah sebesar 176,57 m. Sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan No PM 68 tahun 2011 tentang Alur Pelayaran di Laut dan berdasarkan hasil perhitungan, direkomendasikan alur dengan minimal lebar 137,5 meter dan kedalaman 11,2m di alur pelayaran Pelabuhan Sorong. Tambahan lebar diperlukan di setiap tikungan antara 0,035m-0,0544m. Untuk rute dua arah, diperlukan tambahan lebar alur seb Berdasarkan hasil simulasi, alur pelayaran Pelabuhan Sorong sudah aman untuk dilalui kapal dengan draught 8.Hasil analisis alur pelayaran pada alur Pelabuhan Sorong  ditunjukan pada Tabel 4

No.  Aspek Kondisi Eksisting Kebutuhan Rekomendasi
PM 68 Tahun 2011 PIANC
1 Kedalaman Alur Masuk Keluar dan Kolam Pelabuhan 17mLWS -24mLWS  11,2mLWS Kedalaman  sudah mencukupi dengan rentang 15-30mLWS Tetap Menggunakan RUTE DUA ARAH
2 Lebar Alur Alur Barat : 600-926mAlur Selatan 200-2800m Satu Arah :
137,5m + (0,0253m-0,0281m)Dua Arah :
275m + (0,0253m-0,0281m)
Alur Barat : 171 mAlur Selatan 171 – 209m
3 Lebar Tambahan dalam Belokan (Tikungan) Alur

Sumber : Hasil Analisis, 2014

Penetapan alur untuk kapal dengan kedalaman sesuai perhitungan rekomendasi kedalaman yaitu 11.2 meter dilakukan untuk memberikan batasan wilayah yang dapat dilalui oleh  kapal dengan draught 8 meter.anyak 87,5-137,5 meter.